Sinopsis CAHYA SUMIRAT DUKUH CARUBAN II
Setelah Kerajaan Cirebon memisahkan diri dari wilayah Kerajaan Pajajaran maka pembayaran upeti dan pajak untuk Kerajaan Cirebon dibebaskan, namun untuk Kuningan pajak dan upeti masih berlaku.
Untuk penarikan pajak dan upeti dari Kuningan Prabu Siliwangi mewakilkan kepada Prabu Cakraningrat dari Kerajaan Rajagaluh. Akhirnya Prabu Cakraningrat mengutus Patihnya yang bernama Adipati Arya Kiban ke Kuningan, namun ternyata Pangeran Kuningan menolak mentah-mentah tidak mau membayar pajak dengan alasan bahwa Kuningan sekarang masuk wilayah Kerajaan Cirebon yang sudah membebaskan diri dari Kerajaan Pajajaran. Sebagai akibat dari penolakannya maka terjadilah perang tanding antara Pangeran Kuningan dan Adipati Arya Kiban.
Sementara di kerajaan Cirebon telah datang rombongan dari negeri China dan Arab yang dikawal Syekh Benting, Adipati Keling dan Adipati Cirebon penuh dengan kesopanan. Baladika China ikut memeriahkan gerebeg Maulid Nabi sambil membawa atraksi seni cokek, Barongsai, Liong dan lain sebagainya, diiringi para Baladika China, membawa beberapa peti, hadiah serta merta pendamping Dwaja China Nagaraja berwarna emas sulaman sutera merah gemerlapan.
Kemudian datanglah Pangeran Kuningan melaporkan kejadian yg telah terjadi tentang perang tandingnya dengan Adipati Arya Kiban di Gunung Gundul (palimanan) kepada Kanjeng Sunan Gunung Jati.
Lalu diutuslah Nyi Mas Gandasari untuk menyamar sebagai Nyi Ronggeng yang teramat sangat cantik, sehingga Raja Galuh pun terpikat dan terpesona, akan tetapi dengan memanfaatkan kesempatan tersebut Nyi Mas Gandasari merayu agar Raja Galuh menunjukkan pusaka Kerajaan Galuh, Bokor Emas yang kemudian diambil oleh Nyimas Gandasari, dan membuat Prabu Cakraningrat murka dan mengirimkan bala prajurit untuk menyerang Cirebon.
Akhirnya, peperangan tersebut usai, bahkan tak ada lagi kekacauan yang berarti di kawasan Keraton Cirebon dan sekitarnya. Setelah keadaan pulih sebagaimana yang diharapkan, maka ketiga Kesultanan Cirebon, sampai akhir zaman.
